Maimun Saleh lahir 14 Mei 1929.
Dia putra kedua dari lima bersaudara pasangan Tgk HM Saleh dan Aisyah, yaitu
Tgk Hasballah, Maimun Saleh, Abasyah, Hadisyah dan Tgk Faisal. Maimun Saleh
menempuh pendidikan di sekolah Taman Siswa dan sekolah menengah Islam di
Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Tahun 1949 Maimun diterima menjadi murid
penerbang di Koetaradja. Pada 1950 dia dipindahkan ke sekolah penerbang di
Kalijati Jawa Barat, dan 1 Februari 1951 berhasil memperoleh ijazah sebagai
penerbang kelas 3.
Setelah itu, Maimun Saleh masuk
Skuadron IV (pengintai darat) dan turut serta dalam semua operasi yang
dijalankan oleh skuadron ini. Namun maut tak dapat disangka. Pada Jumat, 1
Agustus 1952, Sersan Maimun Saleh yang sedang menerbangkan pesawat intai Auster
IV-R-80 mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Semplak Bogor pukul 09.25 WIB.
Maimun gugur dalam kecelakaan itu.
Atas prakarsa Teuku Syahril,
pembangunan monumen pesawat tempur di atas tugu Maimun Saleh, selain untuk
mengenang jasa penerbang pertama dari Aceh, juga sebagai bentuk terima kasih
dan ikatan batin antara Angkatan Udara dan masyarakat Aceh. Ini juga terkait
dengan jasa masyarakat Aceh yang menyumbangkan pesawat terbang pertama RI-001
Seulawah kepada Indonesia sebagai modal awal saat Indonesia baru merdeka.
prosesi peletakan pesawat tempur
Hawk-200 di atas Tugu Maimun Saleh dilakukan Januari 2008, dan dipimpin
Danlanud SIM, Letkol Pnb Fachri Adami.
Menurut Fachri, pesawat tempur
yang dijadikan monumen itu pesawat asli, bukan replika, termasuk empat amunisi
yang terdapat di atas sayap pesawat. Hanya saja, pada amunisi itu detonator dan
peluru ledakannya tidak dipasang lagi.
Jet tempur itu sendiri sebenarnya
sudah dibawa ke Aceh pada 2003, setelah pesawat mengalami kecelakaan saat
melakukan penerbangan di Pekanbaru, Riau. Dalam kecelakaan itu beberapa bagian
badan pesawat retak dan tak bisa diterbangkan lagi.
Masyarakat Aceh patut berbangga
hati, karena satu-satunya daerah yang menerima pesawat tempur untuk dijadikan
monumen adalah Aceh. Dengan demikian Aceh sekarang memiliki tiga monumen
pesawat, yaitu monumen pesawat RI-001 Seulawah di Blang Padang (Banda Aceh),
monumen pesawat tempur Hawk-200 di Tugu Maimun Saleh, dan pesawat jenis A4
SkyHawk TT-0435 buatan Amerika dari Skuadron 11 Makassar yang sekarang
ditempatkan di apron Lanud Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar sebagai
monumen kedirgantaraan.
Peresmian monumen pesawat
tersebut oleh Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto ST pada 24 September 2010.
jika Anda melintasi jalan raya
Banda Aceh-Medan — dari arah Medan menuju Banda Aceh—di sekitar Km 14 sebelum
memasuki kota Banda Aceh, tepatnya di simpang Desa Aneuk Galong, Kecamatan
Sukamakmur, Aceh Besar, di sisi kiri akan terlihat sebuah monumen pesawat
tempur jenis Hawk 200, milik TNI Angkatan Udara.
Monumen pesawat tempur itu
dipasang di atas tugu Maimun Saleh, yang dimaksudkan untuk mengenang jasa
Maimun Saleh sebagai penerbang pertama asal Aceh. Maimun Saleh gugur pada 1
Agustus 1952 dalam usia 25 tahun akibat kecelakaan pesawat intai di Pangkalan
Udara Semplak, Bogor, Jawa Barat.
Monumen pesawat tempur ini
sengaja ditempatkan di Aneuk Galong karena Maimun Saleh lahir di desa ini.
Pendirian monumen itu tak lepas dari inisiatif Marsekal Udara Teuku Syahril,
putra Aceh kelahiran Montasik Aceh Basar, yang pada 2008 menjabat sebagai
Komandan Operasi Angkatan Udara I. Desa Aneuk Galong dan Desa Montasik tempat
kelahiran Teuku Syahril tidak berjauhan.
Nama Maimun Saleh, selain
diabadikan pada tugu di simpang Aneuk Galong, juga telah diabadikan pada
bandara militer Lhoknga Aceh Besar. Setelah lapangan terbang Lhoknga tidak
digunakan lagi, karena telah dibangun Bandara Blang Bintang yang sekarang
bernama Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), maka nama Maimun Saleh kemudian
diabadikan pada lapangan terbang Cot Bak U di Sabang. Selain itu, nama Maimun
Saleh juga diabadikan sebagai nama jalan di pusat perbelanjaan Peunayong, Banda
Aceh.
Pemasangan Tugu Pesawat, Simpang Aneuk
Galong, Montasik.
Pesawat tempur Hawk-200 buatan
Inggeris, pada 1980-an yang dijadikan monumen atas tugu itu adalah pesawat
tempur utuh dan asli. Hanya saja, pesawat ini tidak bisa lagi dipergunakan
karena beberapa bagian badan pesawat ada yang sudah retak.
Atas usaha Marsekal Teuku Syahril
dengan berbagai perjuangan yang membutuhkan waktu, akhirnya pesawat tersebut
berhasil diboyong ke kampung Maimun Saleh untuk dijadikan monumen yang berjarak
hanya sekitar 200 meter rumah Maimun Saleh sendiri.
Gambar: sianakdesa
Sumber: atjehgallery |
aneukbolangdotblogspotdotcodoid

ConversionConversion EmoticonEmoticon